KEMBALILAH ! KARENA ENGKAU TULANG RUSUKKU


Dada akan terasa longgar bila tanpa penyangga. Dada ini juga akan terasa terhimpit bila tulang yang ada tidak mampu menopang desah nafas. Itulah dia tulang rusuk, dimana tulang rusuk suami adalah terletak pada istri, sedangkan istri adalah sebagai penopang kehidupan suami. Tidak harus dengan amarah jika rusuk itu kemudian sulit untuk diluruskan, dan tidak harus salah jika sang suami tak jua segera meluruskan. Dari semua itu yang dibutuhkan adalah adanya pengertian, ketabahan, kesabaran dan adanya saling memberi waktu untuk mengerti. Dan itulah hakikat cinta sejati pasangan suami-istri.

Karena Engkaulah Tulang Rusukku

Sebuah senja yang sempurna dimadu berterbangannya burung dara di sela-sela kota, sebuah persinggahan dengan lagu cinta yang lembut, akankah ada hal yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih? Kaka dan Maya yang sedang duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan, beratus tawa dan cinta, kemudian Maya pun memulai meminta sebuah kepastian kepada Kaka.  Tentang apa? Yang  jelas tentang cinta.

Maya   : “Siapa di dunia ini yang paling kamu cintai?”, tanya Maya kepada Kaka.
Kaka    : Santai dengan nada serius Kaka menjawab, “Kamu dong...”.
Maya   : “Menurutmu, Aku ini siapa?”
Kaka    : Menghembuskan nafas dengan perlahan, sejenak berfikir dan menatap Maya dengan pasti, seraya berkata, “Kamu tulang rusukku. Pernah tertuliskan, bahwa Tuhan melihat Adam kesepian. Dikala Adam tertidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan diciptakannya Hawa. Semua Pria akan mencari tulang rusuknya yang hilang dan disaat menemukan wanita untuknya, tidak akan lagi merasakan sakit di hati”.

Setelah keduanya menikah, Kaka dan Maya mendapati masa yang begitu indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan tersebut mulailah tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan timbulnya kepenatan hidup yang kian mendera. Itu semua merupakan hal yang pasti ada dalam hidup ini, wajar terjadi dan tinggal bagaimana manusia itu menyikapi. Hidup mereka mulai menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka berdua mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Bertengkar dan pertengkaran mulai ada diantara mereka, panas dan semakin memanas, kejam dan semakin kejam hidup ini. Pada suatu hari, diakhir sebuah pertengkaran diantara mereka, Maya berlari ke luar rumah dan disaat tiba di seberang jalan, Maya berteriak, “Kamu sudah tidak cinta lagi sama aku!...”.

Kaka sangat membenci ketidakdewasaan Maya dan secara spontan balik Kaka berteriak, “Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukanlah tulang rusukku!”. Mendengarkan kata-lata itu, tiba-tiba Maya menjadi terdiam berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya mulai basah dan bercucuran air mata. Ia menatap Kaka, seakan tidak percaya pada apa yang telah dia dengar.

Kaka menyesal akan apa yang telah dia ucapkan. Namun seperti air yang telah tumpah, ucapan tersebut  tersebut tidak mungkin untuk diambil kembali. Dengan berlinang air mata, Maya kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah, seraya berkata, “kalau aku memang bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing”.

Empat tahun telah berlalu. Kaka tidak menikah lagi, namun selama itu dia berusaha mencari tahu akan keberadaan dan kehidupan Maya. Maya pernah ke luar negeri, menikah dengan orang lain, bercerai dan kini kembali ke kota semula. Dan Kaka yang mengetahui semua informasi tentang Maya, merasa kecewa, karena dia tidak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Maya tidak menunggunya. Dan di tengah malam yang sunyi, disaat Kaka meminum secangkir kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup untuk mengakui bahwa dia sangat merindukan Maya.

Suatu hari mereka akhirnya kembali bertemu, di sebuah bandara, di tempat ketika banyaknya terjadi antara pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas,  mata mereka tak mau saling lepas.

Kaka    : “Apa kabar?”, sapa Kaka kepada Maya.
Maya   : “Baik,,,,, hmm,,, apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?”
Kaka    : “Belum”
Maya   : “Aku mau pergi ke Amerika dengan penerbangan sebentar lagi”
Kaka    : “Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telepon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon ku kan, dan aku juga tau nomor teleponmu, belum ada yang berubah, dan tidak akan ada yang berubah”.
Maya   : Dengan tersenyum manis lalu berlalu, “Good bye,,,,Kaka”.

Satu minggu kemudian setelah pertemuan mereka, Kaka sedang berada di sebuah malam yang sunyi kembali, dan malam itu sekali lagi, Kaka meneguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya Kaka sadar bahwa sakit di dadanya itu adalah karena Maya, dan dia sadar Maya adalah cinta sejatinya, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodahnya dia patahkan.

Keesokan harinya Kaka berkemas bertekad ke Amerika untuk menyusul dan mencari keberadaan Maya yang telah ia sadari bahwa Maya lah tulang rusuknya. Hari telah berlalu, siang berganti malam, malam berganti pagi, beribu jalan dilewati, ditengah-tengah kota di negeri orang, namun tidak ditemuinya Maya. Berusaha kembali Kaka menghubungi Maya, namun nomor teleponnya tidak dapat dihubungi. Tanpa putus asa Kaka terus mencari, sampai akhirnya ditengah pekatnya malam terlihat olehnya sosok wanita yang sedang berjalan bersayak-sayak dan hampir pingsan ditepi jalan, berlari dan segera dia temui berniatkan untuk menolong, ternyata wanita itu adalah Maya.

Kaka    : “Maya,, Maya,,Maya,,, ”, usaha Kaka untuk menyadarkannya.
Maya   : Dengan nada tidak sadar, “Antarkan aku pulang,,,, antarkan aku pulang,,,”, berulang-ulang Maya mengatakan yang sama, dengan memegangi kepalanya.
Dibawalah Maya kesebuah tempat penginapan oleh Kaka. Maya tertidur pulas dan duduk terdiam Kaka di sebuah kursi dekat tempat tidur, sambil menunggu Maya benar sadar. Sampai akhirnya mentari pun tiba, bangunlah Maya dan dilihat pertama kali oleh matanya adalah si Kaka yang sedang tertidur di sebuah kursi. Segera dia membangunkannya.

Maya   : “Kaka,,,Kaka,,,Bangunlah!!,, Bangunlah Kaka!!!”
Kaka    : “Oh, Maya, kau sudah bangun”
Maya   : “Kenapa kamu bisa ada di sini? ”
Kaka    : Dengan serius dipeganglah tangan Maya dan dia berkata, “Aku di sini untuk mencarimu, aku di sini untuk mencari tulang rusukku, aku di sini untuk mengajakmu kembali Maya, kembalilah!! Aku ingin kau kembali, karena engkaulah tulang rusukku,,,,”.
Maya   : melepaskan tangannya dari genggaman Kaka, “Tidak,, tidak Kaka,, pulanglah kamu!!! Aku wanita yang tidak pantas untukmu, aku tidak pantas bersanding denganmu”, dengan meneteskan air mata dan menegaskan kembali, “Pulanglah Kaka!!! Aku wanita yang kotor,, engkau pulanglah!!”
Kaka    : “Aku tau, dan aku menyadari,, namun yang lebih aku sadari adalah karena engkau  tulang rusukku, engkau cinta sejatiku, aku merasa sakit bila tanpamu,,,apapun itu, dan siapa kamu? Kamu tetaplah tulang rusukku,, masih ingatkah apa yang kau tanyakan dulu?”

Berterbangan malaikat menjadi saksi, tangis, buaian mesra dan penuh cinta mengingatkan mereka berdua disaat berada dipunggung senja yang penuh tawa dan penuh cinta. Akhirnya Kaka pun telah menemukan tulang rusuknya kembali. Mereka berdua pulang ke kota semula, dan mereka bertekad untuk kembali memulai paduan cinta diantara mereka. Damai dan bahagia yang mereka inginkan.

The End.

Catatan: “Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali fatal, namun disemua itu kan ada hikmahnya, pelajarilah, dan berikanlah waktu untuk cinta ”
Untukmu di sana, ketahuilah akan kesalahanku, dan ketahuilah pula aku sungguh mencintaimu dan menyayangimu, karena aku yakin, engkaulah tulang rusukku.

0 komentar:

Post a Comment